Kanal

Andrew Pragnell Soroti Kepemimpinan FIFA, Desak OFC Bersatu

Penulis: Fery Andriyansyah
05 Agu 2026, 01:00 WIB

Andrew Pragnell meminta anggota OFC menyatukan sikap di tengah tekanan terhadap Gianni Infantino. (Foto: Hagen Hopkins/Getty Images)

Berita Sepak Bola: Andrew Pragnell mengkritik cara FIFA menangani proposal investasi swasta senilai 4,2 miliar dolar AS yang akhirnya dibatalkan. Ketua Federasi Sepak Bola Selandia Baru itu menilai proses tersebut telah memicu krisis kepercayaan terhadap tata kelola sepak bola dunia. Di saat bersamaan, ia berharap negara-negara anggota Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) dapat menyatukan sikap terkait masa depan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Tekanan terhadap Infantino meningkat setelah sejumlah negara Eropa menarik dukungan terhadap pencalonannya untuk masa jabatan keempat. Sementara itu, OFC yang beranggotakan 11 negara, termasuk Selandia Baru, belum menentukan posisi resminya. Jika Kongres Luar Biasa FIFA digelar, seluruh 211 asosiasi anggota akan memiliki hak suara untuk menentukan arah kepemimpinan FIFA.

Dalam wawancara dengan Reuters, Andrew Pragnell menegaskan bahwa FIFA memang telah membawa banyak manfaat bagi federasi anggota di luar Eropa dan Amerika Selatan. Selandia Baru juga menikmati dukungan melalui berbagai proyek pengembangan, termasuk keberhasilan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita 2023 dan keuntungan dari format baru Piala Dunia 48 peserta.

"Jika kita mengesampingkan proposal itu, FIFA telah mencatat pertumbuhan komersial yang luar biasa dan meningkatkan distribusi pendanaan kepada federasi anggota, termasuk sejumlah proyek yang sangat bermanfaat bagi kami," ujar Pragnell. 

"Namun, proposal itu sendiri, cara penyusunannya, cara pengembangannya, hingga bagaimana para anggota pertama kali mengetahuinya telah menimbulkan guncangan besar terhadap kepercayaan dalam sistem sepak bola internasional."

Pragnell juga mempertanyakan alasan FIFA mencari investasi swasta ketika organisasi tersebut berada dalam kondisi finansial yang sangat kuat. Menurutnya, keputusan itu sulit dipahami dan memunculkan pertanyaan mengenai valuasi hak komersial berbagai kompetisi yang dimiliki FIFA. "Tidak lazim melakukan penggalangan modal ketika persoalan utamanya bukan kekurangan modal," katanya.

"Salah satu pertanyaan terbesar adalah bagaimana valuasi itu dihitung. Jika nilainya masih akan terus meningkat pada masa mendatang, pada akhirnya Anda menjual sepak bola dunia dengan nilai yang lebih rendah daripada potensi sebenarnya."

Meski mengapresiasi berbagai pencapaian FIFA, Pragnell menegaskan tata kelola organisasi tidak boleh diabaikan. Ia juga mengingatkan bahwa Selandia Baru pernah menolak rencana sponsor Arab Saudi di Piala Dunia Wanita sebagai bukti independensi federasinya. "Tidak masalah mengakui hal-hal positif yang telah dilakukan FIFA, tetapi tata kelola tetaplah tata kelola. Sebagai anggota, kami pada dasarnya adalah para pemegang saham bagi masa depan sepak bola," ujarnya.

Ia berharap anggota OFC dapat mengambil sikap yang selaras agar memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan arah FIFA ke depan. Meski demikian, Andrew Pragnell mengakui setiap asosiasi tetap memiliki hak untuk menentukan keputusan secara mandiri sehingga kesatuan sikap belum tentu mudah dicapai.

Artikel Tag: FIFA, Gianni Infantino

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru