Analisis: Faktor Penyebab Gagalnya Italia Menuju Piala Dunia 2026
Analisis: Faktor Penyebab Gagalnya Italia Menuju Piala Dunia 2026 - sumber: (footballitalia)
Berita Liga Italia: Krisis Panjang Azzurri di Kancah Internasional
Kegagalan Italia untuk tampil di Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak yang semakin memperdalam luka bagi para pendukung setia Azzurri. Setelah absen dalam dua edisi sebelumnya, harapan mereka untuk kembali bersinar di panggung dunia pupus meski format Piala Dunia sudah diperluas menjadi 48 tim. Italia, yang pernah merajai dunia dengan empat gelar juara, kini menghadapi permasalahan sepak bola yang serius.
Bencana terbaru terjadi di Zenica, di mana Italia harus mengakui keunggulan Bosnia dan Herzegovina setelah hanya bermain imbang 1-1 dan kalah 4-1 dalam adu penalti. Moise Kean sempat membawa Italia unggul, namun kartu merah yang diterima Alessandro Bastoni mengubah jalannya pertandingan. Haris Tabakovic menyamakan kedudukan untuk Bosnia, dan kesempatan Italia untuk tampil di Piala Dunia kembali menghilang.
Perjalanan di babak grup juga penuh dengan rintangan. Kekalahan 3-0 dari Norwegia di Oslo pada Juni 2025 menjadi salah satu penentu nasib buruk Italia. Dengan gol dari Alexander Sorloth, Antonio Nusa, dan Erling Haaland, Norwegia menunjukkan keunggulannya. Meski Italia menguasai bola, Norwegia memiliki kecepatan dan ketajaman dalam menyelesaikan peluang. Kekalahan ini mengakhiri masa jabatan Luciano Spalletti sebagai pelatih, membuka jalan bagi Gennaro Gattuso.
Italia terlihat seperti tim yang kehilangan jati diri. Meski memiliki pemain berbakat seperti Donnarumma, Bastoni, dan Calafiori di lini belakang, serta Barella dan Tonali di lini tengah, mereka tidak mampu menunjukkan dominasi di lapangan. Di lini depan, nama-nama seperti Kean, Retegui, Scamacca, dan Raspadori belum mampu menjadi ujung tombak yang diandalkan.
Kesuksesan di Euro 2020 kini tampak seperti anomali dalam perjalanan panjang yang penuh dengan kegagalan. Di bawah asuhan Roberto Mancini, Italia tampil penuh semangat dan berhasil menaklukkan Inggris di Wembley. Namun, sejak saat itu, perubahan di kursi kepelatihan dari Mancini ke Spalletti, lalu Gattuso, tidak membawa perbaikan signifikan. Pergantian ini hanya menambah bukti betapa dalamnya krisis yang dialami.
Masalah juga terlihat di level klub. Serie A, meski tetap menjadi liga yang kuat, belum mampu memberikan jalan yang jelas bagi pemain muda lokal. Terlalu banyak pemain muda yang mendapatkan menit bermain terlambat, atau harus bersaing dengan pemain asing yang lebih berpengalaman.
Meskipun Italia akan absen di Piala Dunia, perhatian tetap tertuju pada pemain-pemain Serie A yang akan membela negara lain. Italia harus menyaksikan dari jauh saat liga mereka tetap berkontribusi di panggung internasional.
Tanpa tindakan nyata, 2030 bisa menjadi tahun di mana generasi baru penggemar belum pernah melihat Italia berlaga di Piala Dunia. Negara yang pernah melahirkan bintang-bintang seperti Paolo Rossi dan Roberto Baggio ini harus segera berbenah. Setelah tiga Piala Dunia terlewatkan, sudah saatnya mengakhiri budaya kegagalan yang dianggap sebagai kejutan. Italia memerlukan perencanaan lebih matang, pilihan skuad yang berani, dan identitas menyerang yang lebih kuat untuk kembali ke jalur kemenangan. 2030 bukan sekadar harapan, tetapi batas waktu untuk memperbaiki kesalahan yang ada.