Kanal

David Terrier Desak Reformasi Besar di Tengah Krisis FIFA

Penulis: Fery Andriyansyah
13 Agu 2026, 05:00 WIB

David Terrier sebut FIFA hadapi krisis kepercayaan serius. (Foto: Johnny Fidelin/Icon Sport via Getty Images)

Berita Sepak Bola: David Terrier, presiden FIFPRO Europe, menilai FIFA sedang menghadapi krisis kepercayaan yang serius akibat semakin terkonsentrasinya kekuasaan di tubuh federasi sepak bola dunia tersebut. Pernyataan itu muncul setelah proposal Gianni Infantino untuk menjual hak komersial Piala Dunia memicu penolakan terbuka dari sejumlah konfederasi.

Infantino, yang akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden FIFA pada Maret mendatang, menghadapi tekanan dalam dua pekan terakhir. UEFA, AFC, dan CONCACAF secara terbuka mengkritik cara kepemimpinannya dan meminta agar ia mengakhiri masa jabatannya. Situasi tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara kepemimpinan FIFA dan sejumlah organisasi anggotanya.

"Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah Gianni Infantino harus bertahan atau mengundurkan diri. Jelas bahwa perang nyata telah pecah, dengan hilangnya kepercayaan dari banyak federasi dan konfederasi," ujar David Terrier kepada Reuters.

"Saya tidak mengatakan Infantino mutlak harus pergi. Menurut saya, dalam konteks saat ini, pertanyaan tersebut hampir tidak lagi muncul. Masalahnya bukan apakah dia harus mengundurkan diri atau tidak. Yang kami butuhkan adalah reformasi dan itu sangat penting. Ada kekurangan kepercayaan yang nyata serta keraguan serius mengenai bagaimana sistem ini beroperasi."

FIFA sebelumnya menggelar pertemuan krisis di Maroko pada pekan lalu. Setelah pertemuan tersebut, FIFA meminta maaf kepada 211 asosiasi anggota atas kesalahan dalam menangani proposal penjualan hak komersial Piala Dunia. Organisasi itu juga menyatakan bahwa kepemimpinan FIFA kembali menegaskan dukungan penuh terhadap Infantino.

Namun, FIFA juga memperingatkan adanya upaya untuk melemahkan posisi Gianni Infantino. Organisasi tersebut menegaskan bahwa setiap usaha menantang kepemimpinan presiden harus dilakukan sesuai statuta dan prosedur demokratis FIFA.

Terrier menilai model kepemimpinan saat ini justru berisiko mengulang persoalan yang pernah menimpa FIFA sebelum skandal korupsi menjatuhkan Sepp Blatter pada 2015. Menurutnya, situasi sekarang bahkan lebih buruk dibandingkan ketika Blatter meninggalkan jabatannya.

"Gaya pemerintahan seperti ini tidak lagi mungkin atau dapat diterima. Inilah yang sudah kami kecam selama bertahun-tahun. Sekarang kami berada dalam situasi yang lebih buruk dibandingkan ketika Blatter mengundurkan diri," tegas Terrier.

Terrier memperingatkan bahwa jika sistem tersebut tidak berubah, FIFA akan kembali menghadapi kecurigaan yang dapat merusak citra sepak bola. Ia juga menilai presiden FIFA seharusnya menjadi pihak yang mendorong reformasi, bahkan jika langkah tersebut berarti mempertaruhkan masa jabatannya sendiri.

"Presiden FIFA seharusnya menjadi orang yang mendorong dan mendukung reformasi tersebut. Dalam situasi seperti itu, dia harus bersedia mempertaruhkan mandatnya. Tanpa hal itu, apa pun yang terjadi akan menjadi kekalahan bagi sepak bola," lanjutnya.

FIFA membantah bahwa proposal tersebut melanggar aturan. Organisasi itu menyatakan seluruh tindakan yang dilakukan telah sesuai regulasi dan persoalan yang muncul berkaitan dengan proses serta komunikasi, bukan pelanggaran terhadap tata kelola.

Meski demikian, David Terrier melihat krisis tersebut sebagai kesempatan terakhir untuk mengubah sistem FIFA. Ia menginginkan pembagian kekuasaan yang lebih seimbang sehingga presiden memiliki peran sebagai penjamin tata kelola, bukan menjadi figur yang memegang seluruh kendali.

"Kekuasaan ini harus dibagi, dengan seorang presiden yang menjadi penjamin, tetapi tidak memegang seluruh kekuasaan. Ini adalah kesempatan terakhir yang kami miliki untuk memastikan reformasi dan membangun mekanisme untuk melindungi sepak bola," kata Terrier.

Menurut Terrier, administrasi FIFA saat ini tidak memiliki posisi atau kemampuan yang cukup untuk menjadi penyeimbang sekaligus penjaga hukum, statuta dan regulasi yang berlaku, termasuk aturan yang mengikat presiden FIFA sendiri. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat reformasi tata kelola semakin mendesak.

Artikel Tag: FIFA, Gianni Infantino, FIFPro

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru