Cuaca Sejuk GP Qatar Bisa Bantu Norris Amankan Gelar Juara F1 2025
Cuaca di GP Qatar 2025 diprediksi lebih bersahabat dibanding tahun-tahun sebelumnya
Qatar pertama kali hadir dalam kalender F1 tahun 2021, namun yang paling dikenang terjadi pada 2023 ketika para pebalap mengalami kondisi ekstrem. Kombinasi suhu udara yang sangat panas dan batas maksimal stint ban membuat banyak pebalap tampak kelelahan bahkan mual setelah balapan berakhir. FIA hingga kini menjadikan insiden tersebut sebagai salah satu referensi dalam evaluasi standar keselamatan balapan di cuaca panas.
Namun, situasi musim ini diprediksi jauh berbeda. Berdasarkan prakiraan terbaru, suhu udara akan lebih rendah dan stabil sepanjang akhir pekan, sehingga memberikan kenyamanan tambahan bagi para pebalap dan tim yang sedang mengejar hasil maksimal jelang penutupan musim.
Pada hari Jumat, sesi latihan bebas pertama GP Qatar akan digelar dalam suhu sekitar 26 derajat Celsius, diikuti sesi kualifikasi sprint pada malam hari ketika suhu turun menjadi sekitar 22 derajat Celsius. Angin yang bertiup dari arah utara diperkirakan hanya memengaruhi kecepatan mobil secara minor.
Memasuki hari Sabtu, sprint race akan digelar di bawah suhu 25 derajat Celsius dengan angin yang berpotensi mencapai 25 hingga 30 km/jam. Kondisi ini diprediksi menghadirkan tantangan kecil dalam stabilitas mobil terutama di tikungan berkecepatan tinggi, tetapi secara umum jauh lebih bersahabat dibanding cuaca ekstrem dua tahun lalu. Sementara itu, sesi kualifikasi utama diperkirakan berlangsung pada suhu sekitar 21 derajat Celsius.
Puncaknya, balapan utama GP Qatar di hari Minggu akan berlangsung pada suhu antara 21 hingga 22 derajat Celsius, dengan kondisi cerah dan angin lembut dari arah utara hingga timur laut. Cuaca stabil ini berpotensi menciptakan kondisi lintasan yang ideal bagi para pebalap untuk memaksimalkan performa ban dan strategi balapan.
Bagi Norris, kondisi yang lebih sejuk memberi keuntungan tambahan dalam usaha mengunci gelar juara dunia pertama untuk McLaren sejak era Lewis Hamilton pada 2008. Dengan dua seri tersisa dan persaingan yang semakin ketat, setiap detail cuaca, setelan mobil, hingga dinamika balapan akan berperan besar dalam menentukan juara musim ini.
Artikel Tag: F1 2025, GP Qatar, lando norris, McLaren