Kanal

Musim Debut Lewis Hamilton di Ferrari Berubah Jadi Kisah Pahit

Penulis: Abdi Ardiansyah
13 Jan 2026, 21:15 WIB

Lewis Hamilton

Berita F1: Musim pertama Lewis Hamilton bersama Ferrari pada 2025 menjadi salah satu cerita paling kontras dalam perjalanan panjang Formula 1. Kepindahan besar sang juara dunia tujuh kali dari Mercedes ke Maranello sempat memicu euforia global, dengan gambar Hamilton mengenakan warna merah Ferrari viral di berbagai platform. Namun di balik antusiasme itu, musim tersebut perlahan berubah menjadi periode yang sulit, bahkan disebut menyakitkan untuk disaksikan.

Mantan direktur eksekutif Alpine, Marcin Budkowski, menilai adaptasi Hamilton di Ferrari tidak berjalan mulus, terutama saat memasuki paruh kedua musim. Sejak awal, publik memahami bahwa Hamilton membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, baik karena perbedaan budaya tim maupun fakta bahwa ia belum pernah mengendarai mobil Formula 1 bermesin non Mercedes sebelumnya.

Meski begitu, awal musim sempat memberi harapan. Hamilton secara mengejutkan merebut pole sprint dan memenangkan balapan sprint di Grand Prix China, hasil yang langsung meningkatkan ekspektasi terhadap kiprahnya bersama Ferrari. Sayangnya, momentum tersebut tidak berlanjut secara konsisten. Dalam balapan utama, Hamilton lebih sering finis di luar podium, dengan posisi keempat menjadi hasil terbaik yang berulang.

Seiring berjalannya musim, performanya justru menurun. Puncak kesulitan terjadi di akhir musim ketika Hamilton tersingkir di sesi Q1 dalam tiga balapan berturut-turut. Kualifikasi menjadi titik terlemah, meski ia tercatat sebagai pebalap dengan jumlah pole position terbanyak dalam sejarah Formula 1. Situasi ini semakin kontras karena rekan setimnya, Charles Leclerc, mampu meraih beberapa podium dari mobil SF 25 yang dinilai tidak kompetitif.

Budkowski mengaku terkejut dengan penurunan tersebut. Ia mengatakan, “Wajar jika pebalap yang pindah tim mengalami kesulitan di awal, apalagi menghadapi rekan setim secepat Charles dalam satu lap. Namun tetap saja, penurunan performa di akhir musim cukup mengejutkan.”

Ia menambahkan bahwa kemenangan sprint di China sempat memberi sinyal positif, tetapi inkonsistensi dan kegagalan lolos Q1 di akhir musim menjadi momen yang berat untuk ditonton. “Bagi penggemar Formula 1, terlepas mendukung siapa, itu terasa menyakitkan. Prestasi Lewis di olahraga ini pantas dihormati,” ujarnya.

Kini, tekanan besar berada di pundak Ferrari untuk memastikan paket regulasi dan unit daya baru mampu kompetitif. Keberhasilan tersebut dinilai krusial agar Lewis Hamilton bisa bangkit dan menutup kariernya di Formula 1 dengan catatan yang lebih sesuai reputasinya.

Artikel Tag: Lewis Hamilton, Ferrari, F1 2026

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru