Henry Armstrong Dinilai Lebih Hebat dari Ali dan Sugar Ray Robinson
Henry Armstrong
Berita Tinju - Nama Muhammad Ali dan Sugar Ray Robinson selama ini hampir selalu berada di puncak daftar petinju terbaik sepanjang masa. Namun, pelatih dan analis tinju ternama Teddy Atlas memiliki pandangan berbeda. Baginya, sosok yang paling layak menyandang status petinju terbaik dalam sejarah adalah Henry Armstrong.
Armstrong merupakan salah satu ikon terbesar tinju dunia pada akhir 1930 an. Petinju berjuluk Homicide Hank itu mencatatkan prestasi yang hingga kini masih dianggap luar biasa karena mampu menguasai tiga divisi sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan.
Pada 1937, Armstrong merebut gelar juara dunia kelas bulu. Setahun kemudian ia menambah koleksi sabuk juara di kelas welter setelah mengalahkan Barney Ross. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga menjadi juara dunia kelas ringan hanya beberapa bulan kemudian dengan menundukkan Lou Ambers.
Prestasi tersebut menjadikan Armstrong sebagai petinju pertama dalam sejarah yang memegang gelar dunia di tiga kelas berbeda secara bersamaan. Pada masa itu hanya ada delapan kelas yang diakui dalam dunia tinju, sehingga pencapaiannya dianggap jauh lebih sulit dibanding era modern yang memiliki banyak divisi dan sabuk juara.
Atlas menilai dominasi Armstrong tidak hanya terlihat dari jumlah gelarnya, tetapi juga dari aktivitas bertanding yang luar biasa padat.
"Dia mempertahankan gelar kelas welter sebanyak 18 kali hanya dalam waktu 27 bulan. Saya rasa kita tidak akan pernah melihat petinju seperti itu lagi," ujar Atlas melalui kanal YouTube miliknya.
Menurut Atlas, Armstrong bahkan nyaris mencatat sejarah yang lebih besar lagi. Ia sempat menantang juara dunia kelas menengah Ceferino Garcia. Meski banyak pengamat saat itu menilai Armstrong tampil lebih baik, hasil pertandingan berakhir imbang sehingga ia gagal merebut gelar keempat.
"Sebagian besar orang yang menyaksikan pertarungan itu merasa Armstrong layak menang, tetapi keputusan resmi berkata lain. Seandainya dia menang, mungkin dia akan menjadi juara dunia di empat kelas berbeda pada zamannya," kata Atlas.
Selama karier profesionalnya, Armstrong membukukan rekor 151 kemenangan, 21 kekalahan, dan 9 hasil imbang, dengan lebih dari 100 kemenangan diraih melalui knockout. Rekor tersebut menunjukkan betapa dominannya ia di era ketika petinju bisa bertanding puluhan kali dalam satu tahun.
Warisan Henry Armstrong tetap dikenang hingga kini. Statusnya sebagai juara dunia tak terbantahkan di tiga divisi baru berhasil disamai Terence Crawford pada 2026 setelah mengalahkan Canelo Alvarez. Meski demikian, bagi Teddy Atlas, pencapaian Henry Armstrong tetap berada di level yang sulit ditandingi oleh petinju mana pun dalam sejarah olahraga tinju.
Artikel Tag: Muhammad Ali, Kelas Bulu, Kelas Ringan, kelas welter, Terence Crawford, Sugar Ray Robinson, kelas menengah, Teddy Atlas