Hidilyn Diaz-Naranjo Seimbangkan Latihan dan Ajar Angkat Besi di Filipina
Jika sebelumnya fokus pada prestasi pribadi, kini Hidilyn Diaz-Naranjo lebih menitikberatkan pada kontribusi bagi perkembangan olahraga di negaranya. (Foto: Olympics)
Juara Olimpiade Hidilyn Diaz-Naranjo kini menjalani peran ganda sebagai atlet dan pengajar, seiring upayanya menginspirasi generasi baru atlet angkat besi wanita di Filipina.
Peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 itu menegaskan bahwa motivasinya saat ini telah berubah.
Jika sebelumnya fokus pada prestasi pribadi, kini ia lebih menitikberatkan pada kontribusi bagi perkembangan olahraga di negaranya.
“Kadang saya lupa siapa diri saya dan apa yang telah saya lakukan untuk negara,” ujar Diaz. Ia menambahkan bahwa pencapaiannya sebagai peraih emas Olimpiade pertama Filipina menjadi dorongan untuk terus memberi inspirasi kepada atlet muda.
Pada usia 35 tahun, Diaz masih aktif berlatih meski belum memastikan apakah akan tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
Ia sempat absen dari Olimpiade Paris 2024 karena keterbatasan kuota, namun tetap menjaga peluang untuk kembali tampil di panggung dunia.
Di luar arena, Hidilyn Diaz-Naranjo mulai mengambil peran baru sebagai pengajar.
Pada awal 2026, ia mengajar angkat besi di University of the Philippines, memanfaatkan fasilitas dari Komisi Olahraga Filipina untuk memperkenalkan teknik dasar kepada mahasiswa.
Selain itu, ia juga mengelola akademi angkat besi bersama suaminya, Julius Naranjo. Melalui akademi tersebut, Diaz berupaya membangun fondasi pembinaan atlet sejak usia dini.
Ia menilai perkembangan angkat besi wanita di Filipina menunjukkan tren positif. Bahkan, jumlah atlet wanita yang tampil di ajang SEA Games kini melampaui atlet pria.
Meski telah mencapai puncak karier, Diaz mengakui tekanan sebagai juara Olimpiade tetap besar. Ia menepis anggapan bahwa status tersebut menjamin kemenangan di masa depan.
“Orang mengira jika sudah juara Olimpiade, maka akan otomatis menang lagi. Padahal tidak, semua harus diperjuangkan kembali,” ujarnya.
Dalam perjalanan kariernya, Diaz juga menghadapi tantangan baru, termasuk berkompetisi di kelas berat berbeda serta menjaga kondisi fisik seiring bertambahnya usia.
Ia menegaskan bahwa usia bukanlah batasan dalam olahraga, selama atlet mampu beradaptasi dan menjaga komitmen.
Kini, bagi Hidilyn Diaz-Naranjo, pencapaian terbesar bukan hanya medali, tetapi kemampuan untuk menginspirasi generasi berikutnya agar berani bermimpi meraih kesuksesan di tingkat dunia.
Artikel Tag: Angkat Besi, olimpiade