Peringatan Alexander Zverev Terhadap Petenis 2 Besar Jelang Wimbledon
Alexander Zverev [image: dpa]
Berita Tenis: Alexander Zverev yakin ia mungkin telah “memecah kebuntuan” untuk bersaing demi peringkat 1 dunia setelah terobosannya di Grand Slam.
Di final Grand Slam keempat dalam kariernya, petenis berkebangsaan Jerman akhirnya memecah kebuntuan setelah menundukkan petenis berkebangsaan Italia, Flavio Cobolli dengan lima set di final demi memenangkan gelar French Open pertama dalam kariernya.
Petenis berusia 29 tahun berada di bawah tekanan besar untuk meraih kemenangan setelah juara bertahan, Carlos Alcaraz mundur karena cedera, diikuti dengan juara Grand Slam lain, Jannik Sinner dan Novak Djokovic yang tersingkir lebih awal dari French Open musim ini.
Juara Olimpiade di Tokyo tahun 2021 pun menahan rasa tegang ketika melakoni final di Court Philippe-Chatrier demi mewujudkan impian yang telah lama ia idamkan.
Saat ia bersiap untuk kembali beraksi di Halle Open, turnamen grass-court pertamanya pada musim ini, ia telah mengincar untuk terus naik hingga posisi puncak suatu hari nanti. Hal tersebut bukan tugas yang mudah karena saat ini ia menghuni peringkat 3 dunia dan terpaut hampir 3.000 poin dengan Alcaraz yang berada di peringkat 2 serta lebih dari 6.000 poin dengan Sinner.
Namun, tampaknya ia berpandangan bahwa kemenangan French Open dapat membebaskannya dari belenggu yang mengikatnya.
“Saya merasa lebih lengkap saat ini. Selalu ada satu gelar penting yang belum saya raih. Tentu saja, ada beberapa pencapaian yang masih ingin saya raih. Menjadi petenis peringkat 1 dunia masih menjadi target utama. Tetapi jalan menuju puncak akan sangat menyulitkan,” ungkap Zverev.
“Dua petenis peringkat 2 besar memainkan permainan yang fantastik. Mereka muda dan akan mendominasi turnamen dalam satu dekade ke depan. Tetapi mungkin saya akhirnya memecah kebuntuan. Jika saya mampu mempertahankan level seperti yang saya tunjukkan di Paris, apa pun mungkin terjadi. Kita akan lihat apa yang masa depan bawa.”
Ia mengakui bahwa ketika Sinner dan Djokovic kandas di pekan pertama French Open, ia menahan “maraton” mental di sisa Grand Slam tersebut. Ia menjadi petenis yang difavoritkan untuk mengangkat trofi kemenangan di Roland Garros, Paris dan jika ia tidak mampu mengatasi tekanan, hal tersebut bisa menjadi bencana baginya.
“Saya tahu jika saya kalah, saya akan berakhir di lapangan itu. Jadi, saya harus melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk memenangkan pertandingan. Saat sampai di final, saya benar-benar lelah, baik secara fisik maupun emosional. Pada akhirnya set keempat, saya bahkan mulai terserang kram,” papar Zverev.
“Anehnya, hal itu justru membantu saya secara emosional, karena saya begitu terganggu dengan hal itu sehingga saya bisa melepaskan beban mental. Ayunan lengan saya lebih bebas, terlepas dari masalah fisik. Set kelima kemudian menjadi yang terbaik.”
“Saya merasa seolah-olah saya bisa memenangkan lebih banyak turnamen, karena saya tahu bagaimana melakukannya. Itulah mengapa French Open sang penting bagi saya dan masa depan saya.”
Sementara Zverev tertinggal 6-7 dalam head to head melawan Alcaraz, Sinner telah memenangkan sembilan pertemuan terakhir mereka secara beruntun dan kini petenis berkebangsaan Italia unggul 10-4 dalam head to head mereka.
Artikel Tag: French Open, alexander zverev, Jannik Sinner, Carlos Alcaraz