Kanal

Bagi Sang Pelatih, Jannik Sinner Bukan Sebuah Robot

Penulis: Dian Megane
11 Mei 2026, 16:44 WIB

Jannik Sinner [image: getty images]

Berita Tenis: Darren Cahill menolak istilah ‘robot’ untuk disematkan terhadap anak didiknya, Jannik Sinner, menggarisbawahi level permainan yang bisa ia mainkan dan seberapa sulit melakukannya.

Pelatih asal Australia, Cahill merupakan salah satu dalang di balik kesuksesan petenis berkebangsaan Italia. Ia membentuk duet luar biasa dengan Simone Vagnozzi dan pada musim 2026 mereka bertujuan untuk membawa sang petenis selangkah lebih maju, berupaya menyelesaikan musim clay-court yang benar-benar luar biasa, setara dengan para petenis hebat dalam olahraga ini.

Dalam sebuah wawancara dengan La Gazzetta, Cahill berbagi beberapa detail yang sangat menarik tentang Sinner, yang sering digambarkan sebagai sosok seperti robot, sebuah istilah yang sepenuhnya ditolak oleh Cahill.

Pertama-tama ia menyebutkan tentang hal yang paling mengejutkan dari petenis peringkat 1 dunia.

"Ia memiliki kesadaran diri yang tinggi. Ia tahu posisinya dalam dunia tenis dan dalam kehidupan. Dalam tenis, itu penting, dalam kehidupan sehari-hari, tidak begitu penting. Dan itu normal karena ia berlatih olahraga dan melakukan sesuatu yang ia cintai, tetapi ada hal-hal yang lebih penting dalam hidup daripada memukul bola tenis. Dan ia tahu itu dengan baik,” jelas Cahill.

“Itulah mengapa ia mampu bersikap rendah hati dan tetap membumi. Saya percaya ini sebagian besar berasal dari pendidikan yang ia terima dari orang tuanya."

"Ia sangat ingin tahu. Ketika berada di tengah kerumunan orang, semua orang ingin tahu sesuatu tentang dirinya, tetapi pada akhirnya, ia menemukan cara untuk membalikkan situasi dan menghujani mereka dengan pertanyaan, baik tentang olahraga atau kehidupan, tentang cara mengatasi tekanan, pacar, atau subjek lainnya.”

“Ia ingin belajar dari orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang kemungkinan akan ia alami di masa depan. Ia ingin mempersiapkan diri sebelumnya."

Ia pun memasuki wacana tentang pandangan beberapa pihak yang menyamakan anak didiknya dengan sebuah robot.

"Ia sama sekali bukan tipe petenis seperti itu. Ada bagian dari dirinya yang menyukai bahaya dan itu tidak terlalu terlihat di lapangan karena saat bermain, ia memiliki komputer internal yang bekerja terus-menerus, dan ada rasa aman tertentu dalam cara bermainnya,” tambah Cahill.

“Ia menghitung probabilitas memenangkan poin dengan memilih pukulan tertentu yang berisiko rendah dan itulah ciri khas petenis yang menang. Tetapi, dalam kehidupan nyata, tidak persis sama. Ia menyukai balap motor, kecepatan. Ia menyukai adrenalin. Tetapi kedua jiwa ini menyatu dalam satu petenis, yang sangat profesional, latihan, nutrisi, istirahat, ia selalu berusaha melangkah ke lapangan dengan tujuan untuk berkembang dan meningkatkan diri. Itulah mengapa ia seorang juara."

Setelah kekalahan di Australian Open, Sinner pun melesat seperti roket.

"Ia memiliki bakat istimewa, sesuatu yang tidak bisa kami, para pelatih, ajarkan. Itu adalah dorongan batin yang membuatnya ingin belajar dari setiap situasi. Jannik belajar tidak hanya dari kekalahan tetapi juga banyak dari kemenangan karena sangat penting untuk 'bersekolah' di setiap pertandingan tenis,” tutur Cahill.

“Menang atau kalah, ia melihat semuanya melalui lensa yang sama, 'Bagaimana saya bisa meningkatkan diri hari ini?' Itulah kekuatannya."

Terkait tekanan menjadi petenis peringkat 1 dunia, Cahill menyatakan, "Tenis adalah olahraga yang mengekspos anda pada banyak tekanan di usia muda. Tetapi tanggung jawab sebagai petenis peringkat 1 dunia sungguh luar biasa. Ia juga mampu mengelola dengan sangat baik kenyataan bahwa ia sangat dicintai dan diikuti di Italia. Ia sangat bangga akan hal itu."

Artikel Tag: australian open, Jannik Sinner

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru