Iga Swiatek Akui Telah Perkuat Sejumlah Aspek Dari Permainannya
Iga Swiatek [image: jimmie48|WTA]
Berita Tenis: Usai kekalahan pahit di Australian Open 2026 melawan Elena Rybakina, Iga Swiatek telah menerapkan perubahan dalam permainannya agar lebih agresif.
Setelah pengunduran diri Aryna Sabalenka dari Qatar Open musim 2026 di Doha, petenis berkebangsaan Polandia menjadi petenis unggulan pertama. Menyusul kekalahan di perempatfinal Australian Open bulan lalu, ia tiba di Doha dengan semangat untuk memperbaiki keadaan dan menerapkan beberapa perubahan yang bisa menjadi kunci untuk menyabet trofi kemenangan.
Petenis peringkat 2 dunia belum mampu memperlihatkan permainan terbaik di lapangan yang cepat, tetapi Qatar Open adalah salah satu turnamen favoritnya setelah ia memenangkan gelar turnamen WTA level 1000 tersebut sebanyak tiga kali berturut-turut pada musim 2022 – 2024.
Oleh karena itu, ada tiga faktor yang mantan petenis peringkat 1 dunia yakini sangat krusial untuk ditingkatkan agar memenangkan gelar lagi, lima bulan setelah kemenangan gelar terakhirnya di Seoul.
“Saya telah melatih servis, forehand, dan gerak kaki saya. Di sini, anda tidak bisa menunggu bola mendatangi anda. Yang jelas, saya meningkatkan stabilitas servis saya dan lebih merotasi,” aku Swiatek.
Juara Wimbledon musim 2025 sangat kesulitan dengan sevisnya ketika bertemu Rybakina di Australian Open, termasuk mengalami tiga kali service break hanya dalam 19 game. Selain itu, ia menghadapi sembilan peluang break lain di sisa turnamen meskipun hanya kehilangan satu set (melawan Anna Kalinskaya), sesuatu yang jarang terjadi padanya di lapangan cepat.
Jika dikombinasikan dengan minimnya kerusakan yang ditimbulkan pukulan forehand sang petenis, dapat dimengerti bahwa ia telah meningkatkan permainannya untuk mencoba membalikkan keadaan dan menjadi lebih agresif di turnamen mendatang.
“Ada berbagai bagian tubuh yang bisa anda fokuskan saat melakukan rotasi. Saya melakukan beberapa hal berbeda, tetapi pada saat yang sama, saya menggerakkan siku lebih ke belakang atau mendorong pinggul lebih ke depan,” jelas Swiatek.
“Ini bukan perubahan gerakan, tetapi niat yang anda cari saat melakukan gerakan tersebut. Terkadang, anda selalu harus mengingat hal-hal seperti itu dalam tenis. Sama halnya dengan pukulan backhand, sama halnya dengan pukulan forehand. Saya merasa saya perlu lebih fokus pada hal itu.”
Tenis putri telah berevolusi hingga Swiatek tidak bisa hanya mengandalkan permainan bertahan dan kecepatan di lapangan, karena gaya bermain seperti Sabalenka atau Rybakina dapat menimbulkan banyak masalah baginya, seperti yang telah terlihat. Di clay-court, ceritanya berbeda, tetapi di jenis permukaan ini, sesuatu harus berubah, seperti yang telah ia lakukan. Sekarang tinggal dilihat apakah itu cukup dalam turnamen di mana cedera dan pengunduran diri telah membuka jalan bagi salah satu favorit utama.
Artikel Tag: australian open, qatar open, Iga Swiatek, Elena Rybakina