Kanal

Thomas Tuchel Kritik Aturan Hydration Break di Piala Dunia 2026

Penulis: Fery Andriyansyah
23 Jun 2026, 17:00 WIB

Thomas Tuchel nilai jeda minum mengubah ritme pertandingan. (Foto: Marc Atkins/Getty Images)

Berita Piala Dunia: Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, melontarkan kritik terhadap penerapan hydration break di Piala Dunia 2026 menjelang pertandingan melawan Ghana pada Rabu (24/6/2026) dini hari WIB di Grup L. Menurut Tuchel, jeda minum yang diterapkan FIFA pada setiap pertandingan telah mengubah karakter permainan sepak bola lebih besar daripada yang ia perkirakan sebelumnya.

FIFA memberlakukan hydration break berdurasi tiga menit di pertengahan setiap babak karena cuaca panas yang terjadi di sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun kebijakan tersebut memunculkan perdebatan karena dianggap mengganggu ritme pertandingan..

Menyampaikan pandangannya mengenai aturan tersebut, Thomas Tuchel mengaku awalnya tidak memperkirakan dampaknya akan sebesar ini. Ia menilai pertandingan kini kehilangan alur alami karena sering terhenti di tengah jalannya permainan.

"Saya pikir hydration break menginterupsi dan mengubah identitas pertandingan sepak bola jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Sebelumnya saya pernah mengalami jeda minum ketika cuaca benar-benar panas dan memang diperlukan, tetapi durasinya lebih singkat dan hanya terjadi pada beberapa pertandingan," ujar Tuchel.

Masih membahas dampak aturan tersebut, pelatih asal Jerman itu menilai pertandingan kini terasa seperti terbagi menjadi empat bagian. Kondisi tersebut membuat dinamika permainan berbeda dibandingkan sepak bola yang biasa dimainkan tanpa banyak interupsi.

"Sekarang pertandingan hampir terbagi menjadi empat kuarter dan saya pikir itu mengubah karakter pertandingan jauh lebih besar daripada yang saya perkirakan," kata Tuchel.

Kritik terhadap hydration break memang terus bermunculan sejak awal turnamen. Sebagian pihak menilai jeda tersebut memberi keuntungan tambahan bagi stasiun televisi untuk menayangkan iklan, sementara para pencinta sepak bola tradisional merasa ritme permainan menjadi terganggu.

Meski demikian, FIFA tetap menerapkan aturan tersebut secara konsisten pada seluruh pertandingan. Kebijakan itu berlaku bahkan ketika kondisi cuaca tidak terlalu panas, dengan alasan menjaga keseragaman dan keadilan bagi seluruh peserta turnamen.

Beralih ke sudut pandang sebagai pelatih, Tuchel mengakui sebenarnya ia mendapatkan keuntungan dari adanya jeda tersebut. Hydration break memberinya kesempatan untuk mengumpulkan para pemain dan memberikan instruksi tambahan di tengah pertandingan.

"Saya menyukainya sebagai pelatih karena tentu saja saya bisa memberikan pengaruh dan mengumpulkan tim saya. Namun secara keseluruhan saya lebih menyukai sepak bola ketika dimainkan terus-menerus karena dari situlah momentum dibangun," jelas Tuchel.

Melanjutkan penjelasannya, Tuchel menekankan bahwa momentum merupakan salah satu elemen terpenting dalam sepak bola. Menurutnya, tim yang sedang bermain baik sering kehilangan ritme setelah pertandingan dihentikan untuk jeda minum.

"Sangat sulit membangun momentum dan lebih sulit lagi mempertahankannya. Momentum berkembang dalam periode permainan yang panjang dan menjadi bagian dari karakter permainan yang indah ini. Hydration break justru mengurangi hal tersebut," ujar Tuchel.

Komentar Tuchel menarik perhatian karena pertandingan Inggris melawan Ghana di Boston diperkirakan berlangsung dalam suhu yang relatif sejuk, tidak lebih dari 20 derajat Celsius. Meski begitu, aturan hydration break tetap akan diterapkan sesuai regulasi FIFA yang berlaku sepanjang Piala Dunia 2026.

Bagi Thomas Tuchel, isu ini bukan sekadar soal taktik atau strategi. Ia melihatnya sebagai perubahan yang memengaruhi identitas dasar sepak bola, sebuah olahraga yang menurutnya selalu lebih menarik ketika dimainkan dengan alur yang mengalir tanpa terlalu banyak gangguan.

Artikel Tag: Thomas Tuchel, Inggris, Piala Dunia, Piala Dunia 2026

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru