Tim Henman Kuak Hal Menantang Tentang Latih Carlos Alcaraz Di Laver Cup
Carlos Alcaraz [kiri] dan Tim Henman [kanan] [image: getty images]
Berita Tenis: Tim Henman saat ini menjalani musim keduanya sebagai Wakil Kapten Tim Eropa di Laver Cup dan sekali lagi memiliki skuad yang diperkuat oleh talenta-talenta elite.
Kompetisi beregu tersebut diciptakan bukan hanya untuk menghormati warisan sosok hebat Rod Laver, tetapi juga untuk memberikan kesempatan bagi para petenis terbaik dunia untuk tampil bersama di panggung yang sama dalam format unik yang jarang ditemui dalam dunia tenis.
Laver Cup tidak dipungkiri telah meraih sukses dan para petenis jelas menyukainya. Carlos Alcaraz mungkin merupakan pendukung paling antusias terhadap turnamen tersebut.
Justru antusiasme seperti yang dimiliki Alcaraz yang menurut Tim Henman, membuatnya sulit dilatih, terutama jika dibandingkan dengan sosok Casper Ruud yang tenang dan terkendali di sampingnya.
Berbicara dalam episode siaran langsung siniar Served with Andy Roddick, ia bergabung dengan panel diskusi tepat di depan O2 Arena menjelang hari terakhir Laver Cup.
Saat ditanya siapa yang menurutnya paling menonjol berkat komitmen terhadap tujuan bersama dan semangat bagi tim, ia tidak membuang waktu untuk menyebut nama petenis berkebangsaan Spanyol, Alcaraz, sebelum kemudian menyoroti petenis berkebangsaan Norwegia, Ruud sebagai sosok pembanding yang unik.
“Menurut saya, tentu saja Carlos, mengingat kepribadian dan energinya, tetapi, saya rasa Casper memiliki pengalaman yang sangat luas di ajang ini. Ia sempat mengatakan sesuatu kepada Carlos saat pertandingan melawan Taylor Fritz, ia bilang, ‘Dengar, dari sudut pandang saya...’.”
“Sekali lagi, itu tindakan yang cukup berani untuk menyampaikan pendapat — soal apakah petenis itu mau menerimanya atau tidak, itu urusan lain — tetapi ia berkata, ‘Dari sudut pandang saya, saat kau terlibat dalam reli melawan Taylor, kau lebih atletis dibandingkannya. Pukulan forehand-mu juga lebih baik darinya. Kau memiliki variasi permainan yang lebih banyak darinya. Kau tidak perlu memaksakan diri melakukan pukulan berisiko tinggi. Terkadang, cukup bertahan saja dalam reli’.”
"Menurut saya, tantangan bagi Carlos — jelas sekali — adalah keinginannya untuk melihat layar di atas sana dan menyaksikan pukulan winner yang spektakuler, sama seperti kita. Jadi, ada kalanya kita yang duduk di pinggir lapangan hanya bisa bergumam, 'Bertahan saja dalam reli, tetaplah bermain dalam reli’.”
"Namun kemudian ia melakukan pukulan luar biasa — seperti drop shot yang mungkin sebenarnya bukan pilihan pukulan yang tepat — tetapi ia berhasil mengeksekusinya dengan sempurna. Kita pun jadi berpikir, 'Ya, itu dia caranya, teruskan saja begitu.' Jadi, pada akhirnya kita sering kali merasa bertentangan dengan pendapat sendiri."
Henman kemudian menjelaskan rasa canggung saat mencoba memberikan saran kepada petenis yang gaya bermainnya sangat berbeda jauh dari dirinya, seorang penggemar sejati gaya servis dan volley klasik ala zaman dulu.
"Menurut saya, ia [Ruud] sangat memahami pola permainan yang cocok baginya, pola yang juga bisa diterapkan oleh petenis lain. Sementara itu, untuk Carlos — karena ada begitu banyak pilihan — kita kadang malah melontarkan saran yang terdengar konyol, seperti, 'Ya, pukul saja winner.' Kalau berhasil mencetak winner, itu pasti ampuh. Padahal, saran semacam itu belum tentu relevan bagi petenis lain."
Artikel Tag: Casper Ruud, Laver Cup, Carlos Alcaraz