Aturan Berat Minimum di MotoGP Jadi Perdebatan, Pebalap Jangkung Dirugikan?
Luca Marini menjadi rider tertinggi di MotoGP (184 cm)
Berita MotoGP: MotoGP kembali menuai sorotan, kali ini bukan soal kecepatan atau teknologi, melainkan soal berat badan pebalap. Tidak adanya aturan berat minimum gabungan dinilai membuat pebalap bertubuh tinggi berada dalam kondisi kurang diuntungkan.
MotoGP menjadi satu-satunya kelas balap Grand Prix yang belum menerapkan aturan berat minimum gabungan antara motor dan pebalap. Kondisi ini memunculkan perdebatan panjang karena dinilai merugikan rider bertubuh tinggi dan berbobot lebih besar dibandingkan rival mereka yang lebih ringan.
Di kelas Moto3, berat minimum gabungan motor dan pebalap ditetapkan 152 kilogram, sementara di Moto2 berada di angka 217 kilogram. Kejuaraan World Superbike bahkan memiliki sistem kompensasi bobot pebalap. Namun di MotoGP, aturan tersebut belum berlaku. Berat minimum motor prototipe motor di kelas ini sekarang ditetapkan 157 kilogram, tanpa memperhitungkan berat pebalap.
Akibatnya, manajemen berat badan menjadi aspek krusial. Juara dunia 2024, Jorge Martin, menegaskan bahwa berat badan adalah detail yang tidak bisa diabaikan di level tertinggi balap motor.
“Kami adalah elit motorsport dan bekerja pada setiap detail. Salah satunya adalah berat badan. Kami semua sangat kurus dan berusaha tetap kuat dengan daya tahan yang baik, tapi dengan bobot serendah mungkin,” ujarnya.
Martin juga mengakui adanya konsekuensi nyata. Menurutnya, pebalap dengan berat di atas 70 kilogram akan menghadapi tantangan lebih besar dalam persaingan. Dengan tinggi 168 sentimeter dan berat sekitar 63 kilogram, Martin termasuk pebalap paling ringan di grid.
Pandangan berbeda datang dari Luca Marini, pebalap tertinggi di musim 2025 dengan tinggi 184 sentimeter. Meski berat badannya tercatat sekitar 69 kilogram, Marini menilai MotoGP membutuhkan aturan berat minimum seperti olahraga lain.
“Semakin ringan Anda, semakin cepat dan semakin hemat ban. Menurut saya, aturan berat minimum adalah satu-satunya hal yang masih kurang di MotoGP,” kata Marini. Ia menambahkan bahwa pebalap ringan lebih mudah menambah berat badan, sementara pebalap tinggi memiliki batas fisik yang sulit ditembus.
Sebaliknya, Alex Marquez menilai tinggi badan bukanlah kelemahan mutlak. Sang runner-up musim lalu itu menyebut postur tinggi justru bisa membantu saat menghadapi banyak perubahan arah.
“Dengan perubahan arah yang cepat, pebalap tinggi bisa memanfaatkan kekuatan tubuh untuk memindahkan beban motor,” ujarnya.
Fakta menunjukkan tidak ada pebalap di kelas tertinggi ini yang memiliki berat di atas 70 kilogram musim lalu. Pada 2026, grid akan kedatangan pebalap bertubuh tinggi lainnya, Toprak Razgatlioglu, yang tercatat memiliki tinggi 182 sentimeter dan berat sekitar 72 kilogram. Namun, Toprak menilai perbedaan bobot saat ini tidak terlalu signifikan.
Perdebatan soal aturan berat minimum pun terus berlanjut. Di satu sisi dianggap perlu demi keadilan, di sisi lain dinilai tidak terlalu mendesak karena karakter MotoGP yang sangat kompleks.
Artikel Tag: MotoGP 2026, Luca Marini, Alex Marquez, Jorge Martin
Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/motogp/aturan-berat-minimum-di-motogp-jadi-perdebatan-pebalap-jangkung-dirugikan
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini