Atlet Ukraina Marta Kostyuk Tolak Pelonggaran Sanksi IOC terhadap Rusia
Menurut Marta Kostyuk, keputusan IOC tidak mencerminkan prinsip fair play dan dianggap merugikan banyak negara, bukan hanya Ukraina. (Foto: AP)
Petenis Ukraina Marta Kostyuk melontarkan kritik keras terhadap keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC).
IOC mencabut sementara penangguhan Komite Olimpiade Rusia serta merekomendasikan agar cabang olahraga tidak lagi mewajibkan atlet Rusia bertanding dengan status netral.
Pernyataan itu disampaikan usai memastikan tempat di semifinal Wimbledon 2026.
Marta Kostyuk mengungkapkan ketidaksetujuannya setelah mengalahkan unggulan keempat asal Italia, Jasmine Paolini, pada perempat final, Rabu (8/7).
Menurutnya, keputusan IOC tidak mencerminkan prinsip fair play dan dianggap merugikan banyak negara, bukan hanya Ukraina.
"Saya pikir keputusan itu sangat buruk. Ini sangat jauh dari prinsip fair play bagi semua negara yang terlibat, bukan hanya Ukraina. Saya benar-benar tidak setuju dengan keputusan tersebut," kata Kostyuk.
Petenis berusia 24 tahun itu juga menegaskan tekadnya untuk mengalahkan setiap petenis Rusia yang mungkin dihadapinya pada Olimpiade mendatang apabila mendapat kesempatan bertemu.
Sejak konflik antara Rusia dan Ukraina pecah pada 2022, petenis Rusia tetap diizinkan tampil di tur ATP dan WTA dengan status atlet netral.
Namun, keputusan terbaru IOC membuka peluang bagi federasi olahraga untuk menghapus ketentuan tersebut, meski penerapannya tetap bergantung pada masing-masing cabang olahraga.
Di Wimbledon tahun ini sudah tidak ada lagi petenis tunggal Rusia yang bertahan. Pada semifinal, Kostyuk dijadwalkan menghadapi petenis Republik Ceko Linda Noskova.
Sementara semifinal lainnya mempertemukan petenis Amerika Serikat Coco Gauff melawan Karolina Muchova dari Republik Ceko.
Keberhasilan melaju ke empat besar menjadi pencapaian Grand Slam kedua secara beruntun bagi Kostyuk setelah sebelumnya mencapai semifinal Prancis Terbuka. Saat itu, langkahnya terhenti usai kalah dari petenis Rusia Mirra Andreeva.
Seperti dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya antara petenis Ukraina dan Rusia, kedua pemain tidak melakukan jabat tangan sebagai bentuk protes terhadap perang yang masih berlangsung.
Di luar lapangan, Marta Kostyuk mengaku sulit sepenuhnya memusatkan perhatian pada tenis karena terus memantau situasi di negaranya.
Saat ia bertanding di Centre Court Wimbledon, keluarganya di Ukraina kembali menghadapi serangan Rusia di Kyiv.
Ia mengungkapkan bahwa pada Senin lalu rudal Rusia menghantam kawasan permukiman yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumah orang tuanya.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah ibu kota Ukraina digempur serangan drone dan rudal selama sekitar 11 jam yang menewaskan sedikitnya 21 warga sipil.
"Tidak mudah untuk benar-benar melepaskan pikiran dari semua yang terjadi. Saya berusaha tetap mengetahui perkembangan di rumah, tetapi pada saat yang sama berusaha agar semua itu tidak terlalu memengaruhi permainan saya," ujar Kostyuk.
Kostyuk menjadi petenis putri Ukraina kedua yang berhasil mencapai semifinal Wimbledon setelah Elina Svitolina, yang melakukannya pada 2019 dan 2023. Namun, Svitolina selalu gagal melangkah ke partai puncak.
Kini, Marta Kostyuk berpeluang mencatat sejarah sebagai petenis Ukraina pertama yang mencapai final Wimbledon.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat memberikan arti besar bagi masyarakat di negaranya yang masih menghadapi dampak perang.
Artikel Tag: olimpiade, IOC, Marta Kostyuk
Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/olahraga-lain/atlet-ukraina-marta-kostyuk-tolak-pelonggaran-sanksi-ioc-terhadap-rusia
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini