Ryan Garcia Kejar Gelar Juara Dunia Demi Tebus Reputasi Yang Tercoreng
Ryan Garcia kini menyadari bahwa tinju adalah maraton, bukan sprint. (Foto: Fight TV)
Petinju asal Amerika Serikat, Ryan Garcia, memasuki pertarungan penting dalam kariernya saat menantang juara kelas welter WBC, Mario Barrios, akhir pekan ini.
Di usia 27 tahun, Garcia telah memiliki popularitas dan kekuatan komersial yang jarang dimiliki petinju seangkatannya, namun satu hal masih belum berhasil ia raih: gelar juara dunia.
Dengan lebih dari 12 juta pengikut di Instagram, Garcia menjadi salah satu petinju Amerika paling populer di media sosial.
Namanya sejajar dengan figur besar seperti Jake Paul, Floyd Mayweather Jr., dan Mike Tyson dalam hal daya tarik publik.
Pertarungannya melawan Gervonta Davis pada 2023 bahkan mencatatkan pemasukan tiket terbesar keenam dalam sejarah tinju Amerika Serikat, dengan nilai mencapai 22,8 juta dolar AS dan lebih dari 1,2 juta pembelian pay-per-view.
Namun, di balik gemerlap popularitas dan kontrak sponsor bernilai besar, Garcia belum pernah menyandang status juara dunia.
Ia mengakui sempat terburu-buru dalam membangun karier dan ingin meraih segalanya sebelum usia 26 tahun. Kini, ia menyadari bahwa tinju adalah maraton, bukan sprint.
Karier Ryan Garcia sempat terguncang menjelang duel melawan rival lamanya, Devin Haney, pada April 2024.
Ia gagal memenuhi batas berat badan dan kehilangan kesempatan merebut sabuk WBC.
Meski secara mengejutkan menang angka mayoritas setelah tiga kali menjatuhkan Haney, hasil tersebut kemudian dianulir menjadi no contest karena Garcia dinyatakan positif menggunakan zat terlarang Ostarine.
Komisi Atletik Negara Bagian New York menjatuhkan skorsing satu tahun kepadanya.
Masalah di luar ring turut memperburuk citranya. Ia sempat ditangkap atas tuduhan vandalisme dan dikeluarkan dari WBC akibat pernyataan kontroversial di media sosial.
Ryan Garcia kemudian menyampaikan permintaan maaf dan mengaku menjalani rehabilitasi.
Saat kembali bertarung melawan Rolando Romero di Times Square tahun lalu, penampilannya jauh dari harapan. Ia kalah setelah sempat terjatuh di ronde awal.
Garcia mengakui kondisi fisik dan mentalnya belum pulih sepenuhnya akibat gaya hidup yang tidak disiplin selama masa skorsing.
Kini, dengan persiapan hampir tujuh bulan, Garcia mengklaim telah mengubah pola hidupnya.
Ia kembali berlatih di bawah arahan ayahnya, Henry Garcia, yang pernah mendampinginya sejak usia amatir.
Garcia yakin kebersamaan dengan sang ayah akan membantunya meraih kembali fokus dan konsistensi.
Di sisi lain, Barrios (29-2-2, 18 KO) juga datang dengan motivasi tinggi.
Meski masih memegang sabuk WBC, dua laga terakhirnya berakhir imbang kontroversial melawan Abel Ramos dan Manny Pacquiao.
Barrios bahkan merekrut mantan pelatih Garcia, Joe Goossen, untuk menyusun strategi.
Pertarungan ini menjadi momen krusial bagi Garcia. Kemenangan akan membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar sensasi media sosial.
Kekalahan justru akan menguatkan keraguan publik bahwa popularitasnya tidak sejalan dengan prestasi di atas ring.
“Semua yang terjadi adalah pelajaran,” ujar Garcia. “Saya sudah direndahkan, tapi saya masih percaya batas saya adalah langit.”
Sabtu nanti, Ryan Garcia berkesempatan menjawab satu pertanyaan besar: apakah ia benar-benar layak menyandang gelar juara dunia.
Artikel Tag: Gervonta Davis, Ryan Garcia, Mario Barrios
Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/tinju/ryan-garcia-kejar-gelar-juara-dunia-demi-tebus-reputasi-yang-tercoreng
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini