Kanal

Liam Lawson Buka-bukaan soal Kerasnya Dunia F1 Sejak Debut di 2023

Penulis: Abdi Ardiansyah
07 Jan 2026, 09:50 WIB

Liam Lawson

Berita F1: Liam Lawson meyakini dirinya akan jauh lebih siap secara mental saat memasuki musim penuh keduanya di Formula 1. Pebalap asal Selandia Baru itu menilai tantangan terbesar di F1 bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kemampuan mengelola tekanan psikologis dalam kalender balap yang sangat padat.

Musim 2025 menjadi pengalaman penuh dinamika bagi Lawson. Dalam kalender yang mencatat 24 seri balapan, ia harus beradaptasi dengan ritme cepat, minim waktu evaluasi, serta tekanan untuk terus menunjukkan performa demi mengamankan masa depan kariernya. Lawson mengakui satu aspek yang paling sulit ia hadapi adalah sempitnya waktu persiapan antar seri, terutama ketika jadwal balapan digelar beruntun.

Pengalaman tersebut sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Pada 2023 dan 2024, Lawson sempat merasakan atmosfer F1 ketika menggantikan Daniel Ricciardo yang cedera. Namun, peran tersebut hanya bersifat sementara dan tidak sepenuhnya mencerminkan tuntutan menjalani satu musim penuh sebagai pebalap utama.

Musim lalu menjadi ujian sesungguhnya. Dua rangkaian triple header di akhir musim membuat Lawson merasakan bagaimana tekanan mental dapat menumpuk dengan cepat, terutama saat hasil belum sesuai harapan. Di posisi pebalap muda yang masih berjuang meraih poin sekaligus mempertahankan kursi balap, setiap akhir pekan menjadi pertaruhan besar.

“Hal paling berbeda di Formula 1 dibanding kategori lain adalah jarak waktu antar balapan,” ujar Lawson dalam wawancara eksklusif di akhir musim. “Kadang kamu merasa sudah sangat siap, tetapi begitu akhir pekan balapan dimulai, tiba tiba sudah masuk kualifikasi dan kamu belum mendapatkan sesi yang ideal.”

Menurutnya, pelajaran dari satu akhir pekan balapan harus segera disaring karena waktu tidak pernah menunggu. Situasi ini semakin terasa berat saat balapan digelar secara beruntun tanpa jeda panjang.

“Kamu harus mengambil hal paling penting dari satu akhir pekan, lalu langsung fokus ke seri berikutnya. Secara mental, itu sangat menantang karena kamu terus berpindah dari euforia ke kekecewaan,” lanjutnya.

Liam Lawson menilai padatnya kalender F1 modern membuat tantangan mental semakin intens dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Namun, pengalaman tersebut justru memberinya bekal berharga.

Menjelang musim kedua bersama Racing Bulls, Lawson merasa lebih sadar akan apa yang benar benar perlu menjadi fokus. Ia ingin belajar memilah hal penting, mengurangi beban emosional, dan menjaga konsistensi mental sepanjang musim.

“Kami akan belajar dari hal yang paling penting dan fokus pada itu. Formula 1 adalah permainan mental, dan sekarang saya jauh lebih siap menghadapinya,” pungkas Lawson.

Artikel Tag: Liam Lawson, Racing Bulls, Red Bull, F1 2026

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru