Sergio Perez Pernah Peringatkan Horner soal Kutukan Kursi Kedua Red Bull
Christian Horner dan Sergio Perez
Berita F1: Sergio Perez akhirnya angkat bicara mengenai momen terakhirnya bersama Red Bull Racing setelah mengakhiri kerja sama pada penghujung musim Formula 1 2024. Pebalap asal Meksiko itu meninggalkan tim berbasis Milton Keynes tersebut setelah empat musim, menyusul performa yang terus menurun dan tekanan internal yang semakin sulit dihindari.
Perez sejatinya mengawali kiprahnya di Red Bull dengan cukup menjanjikan. Ia mampu beradaptasi dan berkontribusi pada keberhasilan tim meraih gelar konstruktor. Namun, seiring waktu, performanya mengalami penurunan, mengikuti pola yang sebelumnya dialami pebalap lain di kursi kedua Red Bull seperti Pierre Gasly dan Alex Albon.
Situasi Perez semakin sulit pada paruh akhir musim 2024. Dalam 18 seri terakhir, ia hanya mampu mengumpulkan 49 poin, sebuah catatan yang membuat posisinya di dalam tim kian tidak aman. Tekanan dari manajemen pun menjadi tak terelakkan hingga keputusan perpisahan akhirnya diambil.
Dalam wawancara bersama podcast Cracks, Perez menggambarkan betapa beratnya tekanan yang ia rasakan, terutama ketika sorotan publik dan internal tim tertuju sepenuhnya kepadanya. “Secara terbuka, situasinya sangat sulit. Saya rasa hanya pebalap dengan mental yang sangat kuat yang bisa bertahan dalam kondisi seperti itu,” ujar Perez.
Pebalap berusia 35 tahun itu juga menceritakan percakapan terakhirnya dengan Christian Horner, yang saat itu masih menjabat sebagai prinsipal tim Red Bull. Perez mengaku sempat memperingatkan bahwa masalah di kursi kedua tidak akan selesai hanya dengan mengganti pebalap.
“Saat perpisahan dengan Christian, saya berkata, ‘Apa yang akan kamu lakukan jika tidak berhasil dengan Liam?’,” ungkap Perez. Ia kemudian menirukan jawaban Horner yang menyebut nama Yuki Tsunoda sebagai opsi berikutnya. Ketika Perez kembali bertanya apa yang terjadi jika itu juga tidak berhasil, Horner disebut menjawab bahwa Red Bull masih memiliki banyak pebalap. “Saya bilang, ‘Kamu akan memakai semuanya,’ dan dia menjawab, ‘Ya, saya tahu’,” lanjutnya.
Musim 2024 juga diwarnai gejolak besar di dalam tubuh Red Bull. Isu internal dan dinamika politik tim, termasuk kontroversi yang melibatkan Horner sebelum akhirnya diberhentikan pada pertengahan 2025, turut memengaruhi suasana kerja.
Sergio Perez merasa dirinya kerap dijadikan pusat perhatian di tengah kondisi internal yang tidak stabil. “Tahun itu tekanannya sangat besar. Christian juga memiliki masalahnya sendiri, dan saya seperti menjadi pengalihan perhatian. Semua orang hanya membicarakan saya, performa saya, dan betapa buruknya hasil yang saya raih,” tuturnya.
Kini, Perez membuka lembaran baru dalam kariernya, sementara kisah tentang kerasnya kursi kedua Red Bull kembali menjadi sorotan di dunia Formula 1.
Artikel Tag: Sergio Perez, Christian Horner, Red Bull, Cadillac, F1 2026