Frank Martin Rombak Tim demi Kejar Peluang di Kelas Welter Super
Frank Martin kini bekerja sama dengan promotor Top Rank dan manajemen Fighters First Management setelah mengakhiri sejumlah hubungan profesional sebelumnya. (Foto: Fight TV)
Frank Martin merombak tim pendukungnya demi menghidupkan kembali karier tinju profesional dan memperoleh kesempatan bertarung lebih sering.
Petinju kelas welter super asal Indianapolis, Amerika Serikat, itu kini bekerja sama dengan promotor Top Rank dan manajemen Fighters First Management setelah mengakhiri sejumlah hubungan profesional sebelumnya.
Martin, 31 tahun, memiliki rekor 19 kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil imbang, termasuk 13 kemenangan knockout.
Ia menandatangani kontrak promosi dengan Top Rank pada Juli dan kesepakatan manajemen dengan Fighters First Management pada Juni.
Langkah tersebut dilakukan setelah ia berpisah dari pelatih lamanya, Derrick James, pada tahun lalu, serta tidak lagi berada di bawah naungan Errol Spence untuk tampil di ajang Premier Boxing Champions.
Martin, yang dijuluki “The Ghost”, kini dilatih Buddy McGirt. Bersama McGirt, ia telah menjalani dua pertarungan terakhir, yakni kemenangan knockout atas Rances Barthelemy pada Desember dan hasil imbang angka mutlak melawan Nahir Albright pada Februari.
Pada Sabtu (24/10), Frank Martin akan menghadapi Tarik Zaina dalam pertarungan 10 ronde di Frost Bank Center, San Antonio.
Duel tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertandingan pendukung unifikasi gelar kelas ringan junior antara Emanuel Navarrete dan O’Shaquie Foster yang disiarkan DAZN.
Martin mengatakan keputusan bergabung dengan Top Rank didorong keinginannya untuk lebih aktif bertarung.
Menurutnya, petinju membutuhkan jadwal pertandingan yang teratur agar kemampuan mereka tetap terasah dan kondisi bertanding terjaga.
“Saya menandatangani kontrak dengan Top Rank karena mereka akan memberi saya frekuensi bertarung yang saya inginkan dan butuhkan. Penggemar ingin melihat saya bertarung lebih sering. Kadang-kadang mereka mengira petinju tidak mau bertarung, padahal bukan begitu masalahnya,” kata Frank Martin kepada The Ring.
Ia menambahkan bahwa semakin sering seorang petinju naik ring, semakin tajam pula penampilannya.
Martin merasakan manfaat tersebut setelah bertarung dua kali dalam rentang sekitar 10 pekan melawan Barthelemy dan Albright, menyusul masa panjang tanpa pertandingan setelah kalah knockout pada ronde kedelapan dari Gervonta Davis pada Juni 2024.
Martin juga mengatakan Spence mendukung keputusannya mencari arah baru.
Sementara itu, ia merasa McGirt membantunya kembali memaksimalkan kemampuan atletiknya setelah sebelumnya menilai pendekatan latihan James sedikit membatasi sisi tersebut.
Zaina, petinju Maroko berusia 31 tahun yang berbasis di Inggris, memiliki rekor 18 kemenangan, tiga kekalahan, dan satu hasil imbang, dengan 12 knockout.
Ia pernah bertanding di Meksiko, Kolombia, Pakistan, dan Gibraltar, tetapi kalah angka mutlak dari Delante Johnson dan Rohan Polanco saat menghadapi lawan tangguh di Amerika Serikat pada 2024.
Setelah menghadapi Zaina, Frank Martin membidik peluang merebut gelar IBF yang kosong. Sabuk tersebut akan diperebutkan Lindolfo Delgado dan Arthur Biyarslanov pada 31 Oktober.
“Mendapatkan gelar itu akan memberi saya posisi tawar yang lebih baik. Setelah itu, saya siap menghadapi nama-nama besar. Itulah jalur yang ingin saya tempuh sekarang,” ujarnya.
Artikel Tag: Top Rank, Frank Martin