Gattuso Sebut Perbedaan Besar Dirinya Sebagai Pemain dan Pelatih
Gennaro Gattuso
Berita liga Italia: Gennaro Gattuso membahas tentang perbedaan dirinya semasa masih menjadi pemain dan sekarang menjadi seorang pelatih. Ia menegaskan bahwa ia selalu ingin memainkan sepak bola yang menarik.
Pelatih Lazio mengungkapkan bahwa ia selalu ingin memainkan sepak bola yang menarik, mengingat kepelatihannya di Napoli saat ia gagal mengamankan posisi empat besar di hari terakhir musim 2020/21. Ia merasa bahwa sistem kepelatihannya sangat jauh berbeda dengan gaya bermainnya saat dia dikenal karena kegigihan dan gaya permainannya yang keras dalam melakukan tekel.
“Saya tidak lolos ke Liga Champions dengan 77 poin dan jika kami menang tidak imbang dengan Verona maka kami bisa finis di peringkat kedua. Tim bermain bagus, saya telah bermain sepak bola dan telah memenangkan beberapa trofi dengan karakter saya. Dengan julukan saya ‘Ringhio’, mereka memberikan anda julukan namun anda harus melihat ke depan,”ujarnya via LazioNews24.
“Saya melakukan pekerjaan ini dengan semangat, seorang pemain dengan karakteristik saya hari ini mungkin tidak akan bermain dengan saya. Seseorang seperti saya mungkin tidak akan mendapatkan tempat di sini, Mengingat bagaimana saya memandang sepak bola selama beberapa tahun terakhir ini.”
Oleh karena itu, pelatih asal Calabria tersebut merasa skuad Lazio saat ini tidak membutuhkan sosok 'Gattuso' di lapangan; ia lebih memilih menurunkan gelandang yang mampu membangun permainan dan bergerak maju membantu serangan.
“Apakah kami membutuhkan sosok seperti Gattuso? Untuk gaya permainan yang kami inginkan, kami tidak membutuhkannya. Kami ingin mengambil risiko, membawa banyak pemain ke depan, dan memberikan tekanan ofensif sehingga saat kami merebut kembali bola, kami memiliki banyak pemain untuk melukai pertahanan lawan,”tandasnya.
“Kami tidak butuh dia kami perlu menjaga standar performa tetap tinggi serta piawai dalam turun bertahan dan memahami situasi pertandingan. Pilihannya adalah bermain sebagai satu kesatuan tim atau sekadar mengandalkan acuan posisi individu. Seperti yang kami lakukan di 10 menit terakhir; tim lain mungkin sudah kebobolan dua gol lagi saat melawan Milan, namun kami justru kembali menekan ke depan.”