Senat AS Bahas Reformasi Tinju Lewat Muhammad Ali Revival Act
RUU Muhammad Ali Revival Act ini bertujuan meningkatkan perlindungan kesehatan dan pendapatan petinju sekaligus membuat olahraga ini lebih kompetitif. (Foto: Fight TV)
Reformasi besar dalam olahraga tinju kembali masuk agenda Kongres Amerika Serikat setelah versi Senat dari Muhammad Ali American Boxing Revival Act diperkenalkan pada Kamis (30/7), dengan sejumlah perubahan terkait durasi kontrak, gelar juara, dan perlindungan petinju.
Rancangan tersebut disponsori secara bipartisan oleh Senator Ted Cruz dari Partai Republik dan Jacky Rosen dari Partai Demokrat.
Dukungan lintas partai dinilai meningkatkan peluang pengesahan di Senat, tetapi rancangan itu masih harus diselaraskan dengan versi DPR yang telah disetujui pada Maret.
RUU Muhammad Ali Revival Act ini bertujuan meningkatkan perlindungan kesehatan dan pendapatan petinju sekaligus membuat olahraga ini lebih kompetitif.
Salah satu gagasan utamanya adalah pembentukan Unified Boxing Organizations (UBO), yang akan melengkapi perlindungan dan layanan promosi bagi petinju.
Versi Senat membatasi kontrak pertama petinju dengan UBO maksimal tiga tahun bagi mereka yang belum pernah menandatangani kontrak promosi. Setelah itu, kontrak dapat berlaku hingga enam tahun.
Petinju juga bisa mulai menegosiasikan kontrak baru 90 hari sebelum kontrak lama berakhir, lebih panjang dibandingkan 30 hari dalam versi DPR.
Rosen mengatakan tambahan waktu tersebut penting agar petinju muda tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika menandatangani kontrak.
Menurut dia, kontrak jangka panjang yang ditandatangani ketika seorang atlet baru berusia 17 atau 18 tahun berpotensi mengikat hampir seluruh kariernya.
Dalam persoalan gelar, versi Senat memungkinkan UBO mengakui gelar dan peringkat dari organisasi lain, termasuk UBO lain atau empat badan sanksi utama tinju.
Ketentuan tersebut membuka peluang pertarungan lintas organisasi dan kemungkinan lahirnya juara tak terbantahkan.
Berbeda dari versi DPR, rancangan Senat juga menghapus ketentuan yang membatasi satu gelar juara untuk setiap kelas dari masing-masing badan sanksi atau UBO, dengan pengecualian gelar interim.
Versi Senat juga mewajibkan pengungkapan dan peninjauan kepatuhan oleh Federal Trade Commission dan Association of Boxing Commissions terkait proses pemeringkatan petinju, termasuk membuka jalur banding. Ketentuan ini tidak terdapat dalam versi DPR.
RUU tersebut mempertahankan pemisahan antara UBO dan manajer tinju untuk mencegah konflik kepentingan finansial.
Kedua versi menjamin petinju memperoleh sedikitnya 200 dolar AS per ronde dan setidaknya satu pertarungan yang masuk cakupan aturan setiap enam bulan.
UBO juga dilarang menarik biaya dari petinju untuk pertarungan perebutan gelar.
Namun, rancangan tersebut menghadapi kritik karena dinilai berpotensi memberi pengaruh lebih besar kepada promotor besar.
TKO Group Holdings, yang memiliki UFC dan WWE serta sebagian Zuffa Boxing, menjadi salah satu pendukung utama. CEO UFC Dana White turut mendukung rancangan Senat.
Jika disahkan, Muhammad Ali Revival Act ini akan mulai berlaku 180 hari setelah ditandatangani presiden, berbeda dari versi DPR yang mengatur masa berlaku 30 hari.
Artikel Tag: Muhammad Ali, Dana White