Teknik "Armbar" Antar Ronda Rousey ke Puncak UFC dan MMA
Teknik “armbar” yang mengunci lengan lawan menjadi ciri khas Ronda Rousey sejak awal karier professional di dunia MMA. (Foto: Fight TV)
Ronda Rousey pernah membuktikan bahwa satu teknik saja cukup untuk menguasai dunia MMA dan menjadikannya salah satu bintang terbesar dalam sejarah UFC.
Teknik armbar menjadi senjata utama Rousey sepanjang kariernya.
Jurus submission yang diwarisinya dari dunia judo itu bukan hanya membuat lawan menyerah, tetapi juga membangun aura tak terkalahkan yang membawa namanya melambung di olahraga tarung bebas.
Ronda Rousey mulai dikenal luas setelah beralih dari judo ke MMA usai meraih medali perunggu Olimpiade 2008.
Teknik “armbar” yang mengunci lengan lawan dan memaksa siku mengalami tekanan berlebihan langsung menjadi ciri khasnya sejak awal karier profesional.
Setelah memenangkan tiga pertarungan amatir lewat armbar dalam waktu kurang dari satu menit, Rousey melanjutkan dominasi serupa saat menjadi petarung profesional pada 2011.
Delapan kemenangan pertamanya di level profesional semuanya diraih lewat armbar. Tujuh di antaranya berakhir pada ronde pertama dan lima kemenangan tercipta dalam waktu kurang dari satu menit.
Dominasi tersebut membuat armbar milik Rousey mulai disejajarkan dengan pukulan knockout legendaris Mike Tyson.
Semua lawan tahu apa yang akan datang, tetapi hampir tidak ada yang mampu menghentikannya.
Ronda Rousey kemudian berkembang menjadi salah satu bintang crossover terbesar UFC sebelum era Conor McGregor.
Selain kemampuan bertarung, karisma Rousey saat berjalan menuju oktagon dengan lagu “Bad Reputation” milik Joan Jett ikut memperkuat citranya sebagai ikon MMA.
Namun, faktor utama yang membuat popularitasnya meledak tetap berasal dari cara cepat dan brutalnya mengakhiri pertarungan.
Pada 16 Mei mendatang, Rousey yang kini berusia 39 tahun dijadwalkan kembali bertarung menghadapi legenda MMA wanita Gina Carano dalam duel sesama petarung pensiun.
Carano sendiri terakhir bertarung hampir 17 tahun lalu dan dikenal sebagai salah satu pelopor MMA wanita.
Rousey bahkan pernah menyebut Carano sebagai inspirasi yang membuatnya tertarik masuk ke dunia MMA.
Meski begitu, gaya bertarung keduanya sangat berbeda. Carano berasal dari Muay Thai dan lebih dikenal dengan kemampuan striking serta knockout.
Sebaliknya, Rousey membangun reputasi lewat grappling dan armbar mematikan.
Pada akhir karier UFC-nya, Ronda Rousey sempat mencoba mengembangkan kemampuan tinju dan lebih sering bertarung dalam posisi stand-up.
Keputusan itu justru menjadi titik balik negatif setelah ia kalah knockout dari Holly Holm dan Amanda Nunes dalam dua laga terakhirnya di UFC.
Karena itu, banyak pihak menilai armbar akan kembali menjadi senjata utama Rousey saat menghadapi Carano.
Sepanjang kariernya, armbar Ronda Rousey memang nyaris mustahil dihentikan.
Sarah Kaufman pernah mengaku terlalu fokus menghindari armbar hingga akhirnya tetap kalah hanya dalam 54 detik pada 2012.
Rousey juga mencatat sejumlah rekor UFC berkat teknik tersebut, termasuk submission armbar tercepat era modern UFC saat mengalahkan Cat Zingano hanya dalam 14 detik pada 2015.
Menariknya, pada duel itu Rousey bahkan tidak melepaskan satu pukulan pun sebelum memastikan kemenangan.
Rousey juga menjadi satu-satunya petarung wanita UFC yang memiliki tiga kemenangan di bawah satu menit dan tetap dikenang sebagai salah satu finisher tercepat dalam sejarah organisasi.
Artikel Tag: ronda rousey, UFC, MMA