WNBA Proyeksikan Rugi Besar dalam Proposal CBA Terbaru, WNBPA Bantah
Proyeksi CBA itu disusun berdasarkan laporan keuangan liga yang telah diaudit sebelumnya, dan dinilai dapat mengancam kesehatan finansial jangka panjang WNBA. (Foto: AP)
Negosiasi antara WNBA dan Women’s National Basketball Players Association (WNBPA) terkait perjanjian kerja bersama (CBA) baru masih menemui jalan buntu, meski tenggat waktu 9 Januari kian mendekat.
Kedua pihak dilaporkan masih terpaut jauh dalam isu-isu krusial, terutama menyangkut sistem bagi hasil pendapatan, definisi pendapatan liga, serta cara menghitung dan membebankan biaya operasional.
Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan kepada ESPN bahwa pihak liga memproyeksikan proposal CBA terbaru dari WNBPA akan menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar.
Dalam perhitungan WNBA, skema yang diajukan serikat pemain—yang memberikan sekitar 30 persen dari pendapatan kotor liga kepada pemain dan mencantumkan batas gaji sekitar 10,5 juta dolar AS—diyakini dapat menghasilkan kerugian hingga 700 juta dolar AS sepanjang masa perjanjian.
Menurut sumber tersebut, angka kerugian itu bahkan disebut lebih besar daripada total kerugian gabungan yang dialami WNBA dan tim-timnya selama 29 tahun pertama keberadaan liga.
Proyeksi tersebut disusun berdasarkan laporan keuangan liga yang telah diaudit sebelumnya, dan dinilai dapat mengancam kesehatan finansial jangka panjang WNBA.
Namun, pandangan itu dibantah keras oleh pihak serikat pemain.
Sumber lain yang dekat dengan perundingan menyebut WNBPA meyakini model bagi hasil yang mereka ajukan tetap menempatkan liga dalam kondisi menguntungkan.
Mereka menyebut klaim kerugian 700 juta dolar AS sebagai “sama sekali tidak benar,” dengan menyoroti perbedaan pandangan soal apakah biaya ekspansi tim harus dihitung sebagai pendapatan.
WNBA sendiri memandang biaya ekspansi sebagai transaksi dengan dampak nol terhadap pendapatan bersih liga.
Tim baru memang membayar biaya masuk, tetapi mereka juga memperoleh porsi pendapatan liga di masa depan, sementara tim lama menerima sebagian biaya tersebut namun kehilangan sebagian porsi pendapatan.
Sebaliknya, WNBPA memasukkan biaya ekspansi dalam proyeksi mereka, dengan argumen bahwa dana tersebut tetap merupakan uang nyata yang mengalir ke pemilik tim.
Perbedaan mendasar juga terlihat pada konsep bagi hasil. Liga mengusulkan sistem di mana pemain menerima lebih dari 50 persen pendapatan bersih, yakni pendapatan setelah dikurangi biaya.
Dalam proposal CBA WNBA terbaru, gaji maksimum diusulkan naik signifikan hingga mendekati 2 juta dolar AS, gaji rata-rata melonjak di atas 500 ribu dolar AS, dan gaji minimum melewati 250 ribu dolar AS, dengan batas gaji awal sekitar 5 juta dolar AS.
Sebaliknya, WNBPA menginginkan skema berbasis pendapatan kotor, dengan alasan pemain sebagai penyedia tenaga kerja tidak memiliki kendali atas pengeluaran bisnis dan tidak seharusnya dibayar terakhir.
Dalam dokumen yang dibagikan kepada pemain, serikat sempat mengusulkan batas gaji hingga 12,5 juta dolar AS, sebelum kemudian menurunkannya mendekati 10,5 juta dolar AS dalam pembahasan lanjutan.
Presiden WNBPA Nneka Ogwumike menyatakan bahwa model liga saat ini “belum memadai” dan menegaskan komitmen pemain untuk memperjuangkan kesepakatan yang benar-benar mencerminkan nilai kontribusi mereka.
Bahkan, awal bulan ini para pemain telah memberi mandat kepada pimpinan serikat untuk mempertimbangkan aksi mogok jika diperlukan, menandakan betapa seriusnya ketegangan dalam negosiasi CBA kali ini.
Artikel Tag: CBA
Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/basket/wnba-proyeksikan-rugi-besar-dalam-proposal-cba-terbaru-wnbpa-bantah
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini