Jazza Dickens: Rasa Takut Kalah Lebih Besar daripada Nikmatnya Menang

Penulis: Hanif Rusli
Minggu 25 Jan 2026, 06:32 WIB - 130 views
Jazza Dickens akan mempertahankan gelarnya melawan Anthony Cacace (24-1, 9 KO) di 3Arena, Dublin, pada 14 Maret mendatang. (Foto: Fight TV)

Jazza Dickens akan mempertahankan gelarnya melawan Anthony Cacace (24-1, 9 KO) di 3Arena, Dublin, pada 14 Maret mendatang. (Foto: Fight TV)

Ligaolahraga.com -

Perjalanan petinju asal Liverpool, Jazza Dickens, menuju gelar juara dunia bukanlah kisah instan.

Dibutuhkan 14 tahun dan 319 hari penuh pengorbanan, kerja keras, serta kesabaran sebelum ia akhirnya menggenggam sabuk juara dunia WBA kelas 130 pound.

Kini, setelah sampai di puncak, Dickens sama sekali tak berniat melepasnya begitu saja—bahkan di laga pertahanan pertamanya.

Petinju berusia 34 tahun itu akan mempertahankan gelarnya melawan Anthony Cacace (24-1, 9 KO) di 3Arena, Dublin, pada 14 Maret mendatang.

Duel utama tersebut akan disiarkan secara langsung melalui DAZN.

Bagi Jazza Dickens, laga ini bukan sekadar pertarungan biasa, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang yang nyaris tak pernah mendapat sorotan besar.

Sejak remaja, bakat Dickens sudah terlihat jelas. Ia tampil dengan gaya atraktif dan penuh kreativitas, sesuatu yang jarang dijumpai di panggung tinju kecil Inggris.

Sepanjang kariernya, ia mengoleksi berbagai gelar domestik dan mencatat kemenangan penting atas nama-nama besar seperti mantan juara dunia Leigh Wood dan Ryan Walsh.

Namun, satu hal selalu luput: gelar juara dunia.

Titik balik datang ketika Jazza Dickens bekerja sama dengan Albert Ayrapetyan di Golden Ring Gym, Dubai.

Kolaborasi ini menghidupkan kembali kariernya, mengasah pergerakan, sudut serangan, dan kecerdikan ring yang dulu membuatnya begitu menjanjikan.

Hasilnya terlihat jelas Juli lalu, ketika ia tampil luar biasa dengan mendominasi dan menghentikan Albert Batyrgaziev dalam empat ronde untuk merebut sabuk interim WBA.

Tak lama kemudian, gelar itu naik status menjadi sabuk penuh setelah Lamont Roach memilih naik kelas.

Kini, dengan rekor 36 kemenangan dan lima kekalahan, Jazza Dickens akhirnya berdiri sebagai juara dunia—tanpa sokongan promotor besar atau gemerlap perhatian.

Baginya, gelar ini adalah milik sendiri dan tak bisa direbut siapa pun.

Namun, alih-alih merasa lega, Dickens justru mengakui bahwa rasa takut kalah jauh lebih besar dibandingkan kebahagiaan saat menang.

Ia menggambarkan hari pertandingan seperti Hari Natal—penuh ketegangan, emosi, dan harapan.

Kekalahan, menurutnya, adalah hal paling menyakitkan bagi seorang petinju karena menyentuh ego, identitas, dan masa depan.

Dengan mentalitas itu, Dickens bertekad memastikan tangannya kembali terangkat di Dublin.

Bukan hanya untuk mempertahankan sabuk, tetapi untuk menegaskan bahwa semua pengorbanan panjangnya memang layak.

Artikel Tag: Liverpool, Inggris, Dubai

Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/tinju/jazza-dickens-rasa-takut-kalah-lebih-besar-daripada-nikmatnya-menang
130
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini