Simone Biles dan Mikaela Shiffrin Bicara Tekanan Olimpiade dan Takut Gagal
Simone Biles (kiri) dan Mikaela Shiffrin. (Foto: AP)
Dua ikon olahraga dunia, Simone Biles dan Mikaela Shiffrin, membuka kisah paling rapuh dalam karier mereka saat berbincang di podcast What’s the Point milik Shiffrin pada Jumat (23/1).
Percakapan tersebut menjadi refleksi jujur tentang tekanan Olimpiade, rasa takut gagal, serta bagaimana pengalaman pahit di Tokyo 2020 dan Beijing 2022 mengubah cara mereka memaknai kesuksesan, kegagalan, dan kesehatan mental.
Simone Biles, peraih tujuh medali emas Olimpiade, mengenang Olimpiade Tokyo sebagai momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia datang dalam kondisi fisik terbaik, namun harus menarik diri dari final beregu dan empat final individu karena mengalami “twisties” dan memilih memprioritaskan kesehatan mentalnya.
“Saya pikir saya siap secara mental dan fisik, tapi ternyata tidak,” ujar Biles.
Mikaela Shiffrin mengaku merasakan ikatan emosional saat menyaksikan Biles di Tokyo.
Beberapa bulan kemudian, di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, ia justru mengalami nasib serupa: gagal menyelesaikan tiga nomor yang diikutinya.
“Ada perasaan aneh seolah saya adalah kamu,” kata Mikaela Shiffrin kepada Biles. “Emosi dan ketidakpastian itu tiba-tiba menghantam.”
Keduanya sepakat bahwa menjadi wajah Team USA membawa tekanan luar biasa. Menurut Biles, publik sering kali mendukung hingga seorang atlet terlalu sering menang.
“Semua orang ingin melihatmu sukses, sampai kamu terlalu sukses. Setelah itu, ketika jatuh, mereka berkata, ‘kan sudah dibilang’,” ucapnya.
Sejak pengalaman tersebut, Simone Biles dan Mikaela Shiffrin semakin vokal membicarakan kesehatan mental. Mereka berperan besar dalam menggeser cara pandang dunia olahraga.
“Penggemar mungkin tidak bisa merasakan kemenangan dan medali emas,” kata Biles, “tapi mereka bisa memahami emosi dan kesehatan mental yang kami alami.”
Menjelang akhir percakapan, Shiffrin menyinggung kebangkitan Biles di Olimpiade Paris dan mengaitkannya dengan kecemasannya sendiri menjelang Milano Cortina 2026.
Ia mengaku masih dihantui mimpi buruk tentang kemungkinan terburuk.
Simone Biles langsung memahami perasaan itu. “Menjelang Paris, saya juga sangat takut,” katanya. “Pengalaman Tokyo mengajarkan bahwa hal seperti ini bisa terjadi pada atlet mana pun.”
Pesan utama Biles sederhana namun kuat: kekuatan terbesar seorang atlet muncul ketika ia mendengarkan dirinya sendiri. “Pada akhirnya, cerita itu akan menulis dirinya sendiri,” tutupnya.
Artikel Tag: simone biles, Mikaela Shiffrin, olimpiade