Abass Baraou Ingin Menjadi Panutan yang Dulu Ia Cari di Jerman
Kini, pada usia 31 tahun, Abass Baraou berdiri di ambang pencapaian terbesar. (Foto: Fight TV)
Perjalanan hidup Abass Baraou tidak selalu berjalan lurus. Saat beranjak remaja di Oberhausen, Jerman, Baraou kerap terlibat masalah.
Perkelahian di jalanan dan di sekolah menjadi bagian dari kesehariannya, hingga sebuah titik balik datang dari tempat yang tak terduga: sebuah pusat kegiatan pemuda bernama Haus der Jugend am John-Lennon-Platz yang memperkenalkan olahraga tinju.
Ketika pertama kali memukul heavy bag, bakat Baraou langsung menarik perhatian pelatih Momi Guettari.
Ia membujuk Baraou yang saat itu berusia 13 tahun untuk menekuni tinju secara serius.
Meski awalnya merasa bosan, pandangan Baraou berubah ketika ia melihat langsung disiplin dan keterampilan para petinju muda di sebuah sasana.
Dari sanalah muncul tekad kuat, bukan hanya untuk bertinju, tetapi untuk menjadi lebih baik dari siapa pun yang ia lihat.
Abass Baraou menempuh jalan panjang menuju puncak. Bersama Guettari, ia menanjak di level amatir hingga masuk tim nasional Jerman.
Meski gagal tampil di Olimpiade Rio 2016, ia meraih emas Kejuaraan Eropa dan perunggu Kejuaraan Dunia 2017.
Ia kemudian memilih menjadi petinju profesional, mengoleksi gelar nasional dan sabuk minor dunia, sebelum mengalami kekalahan tipis dari Jack Culcay pada 2020 yang sempat menghambat lajunya.
Karier Baraou sempat tersendat oleh minimnya kesempatan bertanding dan jeda panjang. Namun, ketekunan akhirnya berbuah manis.
Pada Agustus 2025, ia mencetak kejutan besar dengan mengalahkan Yoenis Tellez dan merebut gelar interim WBA kelas 154 pound, yang kemudian ditingkatkan menjadi gelar dunia penuh.
Kini, pada usia 31 tahun, Abass Baraou berdiri di ambang pencapaian terbesar. Ia akan menghadapi Xander Zayas dalam laga unifikasi gelar pada 31 Januari di Puerto Riko.
Meski kembali berstatus underdog dan harus bertarung di kandang lawan, Baraou hanya melihat satu hal: kesempatan.
Baginya, pertarungan ini bukan sekadar soal sabuk. Ini tentang membuktikan bahwa perjalanan penuh liku dari seorang remaja bermasalah hingga juara dunia adalah kisah nyata.
Baraou ingin menjadi sosok panutan—bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi generasi muda di Jerman—bahwa disiplin, kerja keras, dan keyakinan bisa mengubah hidup sepenuhnya.
Artikel Tag: Jerman, Xander Zayas, puerto riko, Olimpiade Rio 2016
Published by Ligaolahraga.com at https://dev.ligaolahraga.com/tinju/abass-baraou-ingin-menjadi-panutan-yang-dulu-ia-cari-di-jerman
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini